Berita

Stafsus Menteri BUMN sebut anak bisnis Kimia Farma rekayasa keuangan

15
×

Stafsus Menteri BUMN sebut anak bisnis Kimia Farma rekayasa keuangan

Sebarkan artikel ini
Stafsus Menteri BUMN sebut anak bidang usaha Kimia Farma rekayasa keuangan

DKI Jakarta – Staf Khusus III Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Arya Sinulingga mengemukakan bahwa pihaknya menemukan adanya dugaan rekayasa keuangan dari anak usaha Kimia Farma.

“Kimia Farma juga demikian. Ada inilah, rekayasa keuangan,” kata Arya usai meresmikan Vending Machine UMKM PT Pegadaian dalam Jakarta, Rabu.

Arya menyampaikan bahwa pihaknya sudah ada menemukan adanya dugaan rekayasa keuangan pada anak Kimia Farma. Namun, ia tiada menyampaikan secara rinci anak perusahaan tersebut. “Temuannya udah ada, tinggal diproses aja,” ucap Arya.

Arya menjelaskan bahwa rekayasa keuangan yang mana diduga dijalankan anak bisnis Kimia Farma itu berbeda dengan yang dimaksud terjadi pada dugaan perkara fraud pada PT Indofarma.

“Itu beda, ia (anak usaha Kimia Farma), rekayasa keuangan. Beda mirip kalau Indo (Indofarma) itu kan uangnya hilang, diambil, kalau ini kan ia rekayasa, menggelembungkan,” jelas Arya.

Lebih lanjut, Arya menjelaskan, bentuk rekayasa keuangan yang diduga diwujudkan oleh anak perniagaan Kimia Farma yaitu seakan-akan hasil jualan atau distribusi berjalan baik. Tetapi pada kenyataannya hasil jualan bukan berjalan baik.

“Misalnya ke distribusi distribusi juga sebagainya, seakan-akan jualan semua bagus padahal enggak. Anaknya si KF (Kimia Farma),” tutur Arya.

Arya mengungkapkan bahwa temuan dugaan rekayasa keuangan yang dimaksud berdasarkan hasil audit internal PT Kimia Farma.

“Itu hasilnya kalau nggak ada audit dari internalnya KF (Kimia Farma) mana dapat itu, akibat yang dimaksud audit internal makanya didapat itu,” ungkap Arya.

Lebih lanjut area menambahkan bahwa permasalahan lain yang digunakan berjalan dalam kimia Farma yaitu banyaknya pabrik yang dibangun tetapi dinilai bukan efisien.

“Dan disamping itu juga KF (Kimia Farma) ada juga problem di dalam pabriknya. Yaitu kebanyakan pabrik, enggak efisien. Makanya dari 10 pabrik akan segera tinggal lima pabrik yang dikelola. Iya, jadi enggak efisien lah pokoknya, dulu itu terlalu banyak bangun pabrik. Padahal enggak butuh,” demikian Arya menjelaskan.

 

Artikel ini disadur dari Stafsus Menteri BUMN sebut anak usaha Kimia Farma rekayasa keuangan